Jumat, 03 Agustus 2012

DUPA


Komitmen Muslim Sejati[1]
M. Jamaaluddin[2]

             
            Komitmen muslim sejati. Apa maksudnya? Apakah setiap muslim belum bisa dikatakan muslim sejati? Apa syarat2nya? Adakah yang bisa menjadi muslim sejati? Mungkin ada juga yang berkomentar di dalam hati, “ah, alay...”, atau, “ah, sok banget membicarakan itu, sudah merasa alim apa...”, atau, “nggak ah, masih pengen seneng2...”, dll.
            Mas/ mbak sekalian, sungguh, kita hidup dalam zaman yang secara umum kehidupannya sudah sangat memprihatinkan di segala aspek, jika kita bandingkan dengan generasi awal Islam, atau zaman kejayaan Islam setelahnya. Kita menjumpai mayoritas kaum muslimin sekarang adalah orang2 yang lemah imannya, shg banyak fenonena pemurtadan atau setidaknya ummat Islam secara umum menjadi manusia2 yang tidak mempunyai keyakinan kuat ttg agamanya shg hidupnya terombang ambing tidak jelas menganut sistem keyakinan yang mana. Ini masalah utama yang kemudian berimbas pada perilaku, baik yang sifatnya vertikal kepada Allah berupa ibadah2 mahdhoh ataupun perilaku yg sifatnya horizontal ttg hubungan dengan manusia. Kita banyak menjumpai orang muslim yang:
1.      Dengan mudah mempercayai dukun yg dianggap mampu mendatangkan manfaat dan menghalau madzorot
2.      Menyekutukan Allah dalam uluhiyah, ada dzat lain yg disembah, atau tidak menyadari kalau dia menyembahnya, misal ritual2 sesajen, mengusap2 kuburan utk mencari berkah, minta tolong kpd orang yg sudah dikubur, dll
3.      Meyakini ramalan2 bintang, ramalan telapak tangan, dll
4.      Merasa sial dengan peristiwa tertentu, misal kejatuhan cicak, atau melihat pocong dalam mimpi
5.      Mengecam/menentang semua atau sebagian hukum Islam/syari’at Islam, dan lain2
Sungguh itu semua adalah penyimpangan2 dalam keyakinan/aqidah yang memprihatinkan pada ummat muslim sendiri. Padahal hanya Allahlah tuhan yang disematkan kepadaNya uluhiyah (yg disembah), rububiyah (yg mengatur kehidupan), mulkiyah (Raja di raja), asma’ wa shifat (mempunyai nama2 yg baik dan sifat yg agung), yg kesemuanya itu mengandung konsekuensi keyakinan dan sikap dari hamba2Nya. Pembagian tauhid ini sering dituduh sbg wahabi, tp sebenanya ini hanyalah ijtihad ulama2 utk memudahkan maum muslimin memahami tuhannya, Allah SWT.

            So, komitmen muslim sejati yg pertama adalah dalam urusan aqidah ini. seorang muslim haruslah mempunyai keyakinan yang kuat. Hanya Allah SWT yang disembah dengan cara yg diajarkan oleh Nabi Agung Muhammad SAW, hanya Allah tempat bergantung, hanya Allah yg dipatuhi sepenuhnya, dan hanya Allah yg berkuasa atas segala sesuatu.
Adzariyat56Komitmen kedua adalah ibadah.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah/beribadah kepada-Ku. (Ad dzariyat:56)
Dari ayat diatas, dpat difahami bahwa tujuan utama manusia adalah untuk beribadah hanya kpd Allah saja. Sedangkan maksud utama ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk, sebagaimana makna secara bahasa. Tidak kalah rusaknya dengan urusan aqidah, urusan ibadah ini juga sangat kronis menimpa kaum muslimin. Sangat banyak kita menjumpai teman atau orang2 disekitar kita yang hanya Islam KTP. Ataupun kalau lingkungan dan orang2 dekat kita sudah baik aqidah dan ibadahnya, sungguh, dipelosok2 sana/lingkungan tertentu sangat banyak saudara muslim kita yang Islamnya hanya sebatas label di KTP. Ini tentu menggelisahkan. Bahkan mahasiswa yg notabenenya mahasiswa kampus Islam pun masih banyak yang tidak lengkap sholat 5 waktunya, apalagi tepat waktu, apalagi sholat berjamaah, apalagi sholat2 sunnahnya, apalagi membaca Alqurannya, apalagi amalan2 sunnah yg lain, sedikit orang yg komitmen dengan hal ini (ibadah).
Prinsipnya, niat memperbaiki harus dimulai dari diri sendiri, kemudian mengajak yg lain. Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat ibadah:
[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik.
[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Sedangkan pilar ibadah itu ada 3, diantaranya adalah cinta (al hubb), takut (khouf), harap (raja’).
“Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas.
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya': 90]

Komitmen yang ketiga adalah akhlak.
“Sesungguhnya, tidaklah Aku mengutusmu melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia” (Al Hadis). Komitmen ketiga yang seharusnya dimiliki seorang muslim ini sebenarnya adalah imbas dari aqidah dan ibadah seseorang, jika aqidah dan ibadahnya baik, maka insyaAllah akhlaknya baik. Demikian juga sebaliknya. Sehari2 kita melihat/mendengar berita yang berkaitan dg akhlak ini, mulai dari kasus perkelahian, narkotika, miras, pemerkosaan, korupsi, pembunuhan, pencurian, dan lain2. Pelakunya kebanyakan muslim, walaupun non muslim juga. Tapi ini adalah kanyataan. Belum lagi akhlak buruk yang sudah dianggap wajar, ini penting disadari, misal: hubungan pria-wanita yang seolah tidak ada batasnya, hedonisme, ttg aurat yg diumbar, kata-kata yg kotor/kasar, mudahnya berbohong, dll, sampai pada sikap2 yang tidak semestinya terhadap kedua orang tua, keluarga, teman, tetangga, dan masyarakat sekitarnya.

Komitmen keempat adalah dakwah.
            Kecenderungan orang yang telah merasakan sesuatu yang baik/bermanfaat adalah akan memberitahukan/mengajak orang lain. Dakwah itu demikian, ia berarti menyeru/mengajak manusia kpd jalan Islam yang kita nikmati keindahannya. Kalau aqidah adalah pondasi Islam (asas), dan ibadah-akhlak adalah bangunan Islam(bina’). Maka dakwah ini adalah penyokong keberlangsungan Islam sampai kiamat nanti (al muayyidat). Biasanya disandingkan dengan jihad, jadi dakwah dan jihad. Tentu jihad dalam makna dan pelaksanaan yg benar. Sebagaimana bangunan, jika Islam tidak ada yg menyokong (dakwah dan jihad), maka Islam akan hancur dan musnah.  
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104)
Menurut Dr. Yusuf Qardawi, segolongan ummat ada 2:
1.       Segolongan dari manusia, berarti semua kaum muslimin. Berdakwah sesuai kemampuan. “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (Al Hadis)
2.       Segolongan dari kaum muslimin, yakni orang2 khusus/da’i yang memahami cara berdakwah yang benar/fiqhudda’wah, dan berdakwah dengan berjamaah, bersama2 sebagaimana yg dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan generasi gemilang setelahnya.
Jadi berdakwah yang mudah dan ringan adalah bersama2, sebagaimana lidi jika hanya satu maka mudah dipatahkan dan sulit cepat membersihkan sampah, tp jika banyak lidi dan diikat, maka akan kuat dan cepat membersihkan sampah. Berawal dari ngaji bersama, bermajelis bersama, memperbaiki diri bersama, memperbaiki lingkungan (bi’ah sholihah) bersama, saling mengingatkan bersama, sampai bisa membuat program2 dakwah bersama. Wallahu’alam..



[1] Tema diskusi dua pekanan ForSTIIF, 09 Juni 2012 di taman masjid kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[2] Pernah menjadi mentor Kajian Tahsin Pekanan ForSTIIF

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar